Pemberdayaan kearifan local yang sudah turun temurun diwarisi

Pemberdayaan
masyarakat sekarang ini menjadi tren yang populer bagi semua lembaga untuk
berkontribusi kepada masyarakat. Namun apakah tren ini membentuk suatu
masyarakat yang mandiri? Menurut pendapat penulis belum efektiv.
Program-program pemberdayaan masyarakat yang di laksanakan sekarang ini baik
dari pemerintah, maupun NGO belum efektif menjadikan  masyarakat yang benar-benar madiri, karena
program pemberdayaan yang di lakukan selama ini seringkali hanya mengasumsikan
masyarakat sebagai objek yang di berdayakan. bahkan kadangkala pihak pemberdaya
juga membawa nilai-nilai baru yang seragam dan harus di aplikasikan oleh
masyarakat tanpa mempertimbangkan nilai-nilai kearifan local yang sudah turun
temurun diwarisi oleh masyarakat. Idealnya pemberdayaan masyarakat harus
berangkat dari nilai-nilai dan dinamika masyarakat, bersumber dan dilakukan
atas kemauan masyarakat sendiri dan pihak pemberdaya hanya memencing atau pen-stimulus
kekuatan masyarakat. Masyarakat sejak terbentuknya sudah memiliki nilai
kearifan bersama, dalam masyarakat sudah terbentuk sebuah system yang diakui
bersama dan mapan melalui pergolakan social yang panjang dan teruji. Atas dasar
itulah sebenarnya masyarakat memiliki modal social untuk berdaya sendiri.

Program-program
pemberdayaan yang selama ini dilakukan justru merusak modal social yang sudah
tertanam di masyarakat. Sebuah contoh, di wilayah dampingan penulis yaitu di
Desa Galih Sari Kecamata Lalan Sumatra Selatan yang awalnya sebelum adanya
program-program CSR, masyarakat masih rutin melakukan kegiatan gotong-royong
atau “royongan” dalam bahasa local dalam melakukan pebaikan jalan desa,
penggarapan sawah, dan kerja bakti membersihkan lingkungan desa. Tapi setelah
adanya program pemberdayaan justru berubah dengan segala sesuatu yang dinilai
dengan uang, masyarakat akan bekerja jika ada upahnya (uang). Dalam hubungannya
dengan pemberdayaan, bahwa sebenarnya masyarakat sendiri sudah menyimpan tenaga
dalam yang cukup besar yaitu sebua modal social. Ironisnya modal social
tersebut terkikis oleh paket pemberdayaan dari pihak luar yang seringkali
dipaksakan. Oleh sebab itu masyarakat harus diberi ruang kretifitas yang lebih
dalam merumuskan kebutuhan, potensi, peluang dan tantangan secara mandiri.

Berdasarkan
uraian diatas, penulis berasumsi bahwa sebenarnya program pemberdayaan
masyarakat desa seharusnya bertujuan untuk menjaga keberlangsungan hidup dan
kemakmuran masyarakat. Dalam hal ini, keberlangsungan hidup adalah kemandirian
dalam melakukan berbagai aktifitas baik dilakukan dengan cara individu ataupun
dengan cara kelompok, demi memenuhi kebutuhan materi maupun non-materi secara
berkelanjutan dan mandiri. Menumbuhkan potensi masyarakat desa berarti harus
mendorong proses pembelajaran bersama antar pihak pihak yang terkait didalamnya
untuk mengetahuai masalah-masalah yang dihadapi,  mengenali suberdaya yang dimiliki dan
menyusun kekuatan utuk mengatasi permasalahan.

Dalam
kenyataanya, kehidupan social masyarakat desa sangat rentan tehadap perubahan.
Kerentanan ini tidak boleh diabaikan, karena dapat mengancam tatanan social
dalam masyarakat. Oleh sebab itu, untuk menjaga keberlanjutan tatanan  masyarakat dibutuhkan perlindungan social
sebagai tembok pertahanan social. Atas dasar persoalan tersebut maka muncul
pertanyaan, skema perlindungan social seperti apa yang biasa di kembangkan agar
masyarakat tetap biasa menjaga keberlangsungan kehidupannya?  Pertanyaan inilah sebenarnya yang harus di
jawab oleh aktivis-aktivis pelaku pemberdayaan masyarakat.

Kerentanan
social yang yang saat ini terjadi di berbagai desa di Indonesia cenderung
disebabkan oleh kesenjangan struktur social yang dipengaruhi oleh perubahan
internal dan eksternal masyarakat yang bersangkutan. Untuk merubah kerentanan
tersebut masyarakat desa harus di berdayakan secara pemikirannya agar memiliki
kesadaran kritis dan kepercayaan diri untuk memperbaiki kehidupannya.
Selanjutnya, pemberdayaan masyarakat harus di lakukan dengan melibatkan
individu dan kelompok untuk mengakses sumber-sumper pembangunan dan keahlian
untuk memanfaatkan sumber tersebut secara efektiv dan bijaksana

Dalam
konteks pemberdayaan masyarakat desa, penguatan modal social sebenarnya merupakan
wadah yang efektif untuk menyelenggarakan perlindungan social oleh masyarakat
dengan cara mandiri sehingga akan tercipta ketahanan social yang semakin kuat.
Semakin kuat ketahan social masyarakat yang di upayakan atas spirit
kemandirian, maka keberlangsungan kehidupannya akan menjadi keniscayaan.