AbstractA to determine potential zone of geothermal reservoir

AbstractA research using magnetic method has been conducted to determine potential zone of geothermal reservoir in Jaboi volcano area, Sabang. This research was conducted at 41 point measurements using Proton Precession Magnetometer (PPM) with 250 meters distance between stations. Data obtained in the field were corrected using diurnal and IGRF correction to get magnetic anomaly. The magnetic anomaly data was processed using Oasis Montaj Software. The resulting anomaly contour was then filtered RTE, which informed the measurement points of cutting the Ceuneuhot fault in the high and low anomaly contrast borders, as well as the location of the manifestations located at the low anomalies allegedly due to the process of rock demagnetization. Subsequent transverse incisions were made on the contour of the RTE results to model the subsurface rock of the study site. From the result of the 2D cross-sectional modeling of the subsurface rocks, it showed that at the study site there was a fault zone suspected as a Ceuneuhot fracture and 5 layers of rock with a depth of 0-1200 meters and a relatively low susceptibility (x 10-6 cgs). The rock layers were altered andesite (k = 7.000-20.000 h = 0-150 m), andesite breccia (k = 700-4.000 h = 10-450 m), altered andesite (k = 8.000-15.000 h = 290-790) , breccia tufaan (k = 2.000-4.000 h = 670-1060 m) and changed basalt (k = 800-900 h = 830-1.200 m). Based on the physical properties of the five rocks, the potentially geothermal reservoir was a breccia of tufaan in the third layer.Keywords : Magnetic Method, Magnetic Anomaly, Reservoir, Susceptibility, GeothermalAbstrakTelah dilakukan penelitian menggunakan metode magnetik untuk menentukan zona potensial reservoir panas bumi pada kawasan gunung api Jaboi, Sabang. Penelitian ini dilakukan di 41 titik pengukuran menggunakan Proton Precission Magnetometer (PPM) dengan jarak antar titik pengukuran sejauh 250 meter. Data yang diperoleh dilapangan dikoreksi diurnal dan IGRF untuk mendapatkan anomali magnetik. Data anomali magnetik tersebut diolah menggunakan software Oasis Montaj. Kontur Anomali yang dihasilkan kemudian dilakukan penapisan (filtering) RTE, yang menginformasikan titik-titik pengukuran memotong patahan Ceuneuhot di batas kontras anomali tinggi dan rendah, serta informasi lokasi manifestasi yang terletak di anomali rendah yang diduga akibat proses demagnetisasi batuan. Selanjutnya dilakukan sayatan melintang pada kontur hasil RTE untuk memodelkan batuan bawah permukaan lokasi penelitian. Dari hasil pemodelan penampang 2D batuan bawah permukaan tersebut menunjukan bahwa pada lokasi penelitian terdapat zona patahan yang diduga sebagai patahan Ceuneuhot dan 5 lapisan batuan dengan kedalaman 0-1200 meter dan suseptibilitas (x 10-6 cgs) yang relatif rendah. Adapun lapisan batuannya adalah andesit terubah (k=7.000-20.000 h=0-150 m), breksi andesitan (k=700-4.000 h=10-450 m), andesit terubah (k=8.000-15.000 h=290-790), breksi tufaan (k=2.000-4.000 h=670-1060 m) dan basal terubah (k=800-900 h=830-1200 m). Berdasarkan sifat fisis ke lima batuan tersebut, batuan yang berpotensial menjadi reservoir panas bumi adalah batu breksi tufaan pada lapisan ketiga.Kata Kunci : Metode Magnetik, Anomali Magnetik, Reservoir, Suseptibilitas, Panas Bumi  PendahuluanSumber energi panas bumi merupakan energi terbarukan yang ramah lingkungan dan sangat sesuai dikembangkan di Indonesia yang masih menggunakan sumber energi dari minyak dan gas bumi. Indonesia terletak pada jalur vulkanik memiliki lebih dari 200 gunung api yang tersebar hampir disemua pulau baik yang aktif maupun yang tidak aktif. Potensi energi panas bumi Indonesia berdasarkan survei yang dilakukan oleh kementerian ESDM, tercatat sebesar 29,038 GW dan merupakan 40% dari potensi energi panas bumi dunia sehingga Indonesia menjadi negara dengan potensi energi panas bumi terbesar dunia 1. Gunung Api Jaboi yang terletak di pulau weh merupakan salah satu daerah prospek panas bumi yang dibuktikan dengan munculnya manifestasi panas bumi permukaan di beberapa tempat berupa fumarol, mata air panas, tanah panas, dan batuan teralterasi.Karakterisasi sumber daya panas bumi dapat dilakukan dengan cara mempelajari ciri-ciri fisika dan kimia dari daerah prospek panas bumi tersebut. Geofisika adalah bagian dari ilmu kebumian yang mempelajari bumi menggunakan kaidah atau prinsip-prinsip fisika. Metode geofisika melibatkan pengukuran sifat fisika di permukaan bumi yang dapat memberikan informasi tentang struktur, komposisi, dan sifat batuan di bawah permukaan bumi.Metode magnetik merupakan salah satu metode geofisika yang sering digunakan untuk survei pendahuluan pada eksplorasi bawah permukaan. Informasi geologi bawah permukaan sangat membantu dalam penafsiran struktur dasar dan patahan yang dapat dijadikan sebagai jalur keluarnya fluida-fluida panas bumi. Batuan yang berada di kawasan prospek panas bumi pada umumnya memiliki magnetisasi rendah dibandingkan batuan di sekitarnya. Hal ini disebabkan oleh adanya proses demagnetisasi oleh alterasi hidrotermal sehingga mengubah mineral yang ada menjadi mineral-mineral paramagnetik atau bahkan diamagnetik. Nilai magnet yang rendah dapat menginterpretasikan zona-zona potensial sebagai reservoir sumber panas. Oleh karena itu, metode magnetik sangat cocok digunakan pada penelitian ini. Rumusan MasalahBerdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan pada penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana sebaran nilai kemagnetan batuan pada kawasan prospek panas bumi Gunung Api Jaboi, Kota Sabang. Bagaimana menentukan zona potensial sebagai reservoir sumber panas bumi berdasarkan nilai kemagnetan batuannya. Tujuan PenelitianAdapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: Memperoleh nilai anomali medan magnetik total pada kawasan panas bumi Gunung Api Jaboi. Interpretasi kualitatif dan kuantitatif dari sebaran nilai kemagnetan dan model penampang 2D batuan bawah permukaan pada kawasan panas bumi Gunung Api Jaboi. Mendapatkan zona potensial reservoir panas bumi berdasarkan nilai suseptibilitas dan sifat fisik batuan tersebut dari model penampang 2D batuan bawah permukaan pada kawasan panas bumi Gunung Api Jaboi. Dasar Teori Kondisi GeologiDaerah penelitian terletak di provinsi Aceh, tepatnya di kota Sabang, Kecamatan Suka Jaya, dengan posisi geografis antara 95°12′ 00″-95°23’00” Bujur Timur dan 05°46’00”-05°55’00” Lintang Utara. Lokasi penelitian terletak kurang lebih 10 km sebelah selatan Kota Sabang, Pulau Weh.Litologi di Pulau Weh terdiri dari batuan Tersier dan Kuarter yang dibedakan menjadi 4 kelompok batuan utama, yaitu Kelompok Batuan Sedimen Tersier (Miosen) merupakan batuan dasar di Pulau Weh, Kelompok Batuan Vulkanik Tua Pulau Weh yang berumur Kuarter-Tersier berupa lava dan aliran piroklastik, Kelompok Batuan Vulkanik Muda berumur Kuarter yang merupakan produk deretan kerucut vulkanik muda yang membentuk suatu kelurusan vulkanik berarah barat laut-tenggara dan utara-selatan, serta Kelompok Batu Gamping terumbu 2.Kerangka tektonik yang bekerja pada pulau weh merupakan bagian dari tektonik yang bekerja di pulau Sumatera. Pola struktur geologi di lokasi penelitian dicerminkan oleh berbagai macam indikasi lapangan seperti depresi vulkanik (horst dan graben), triangular face, gawir sesar, kekar gerus, offset batuan dan topografi, kelurusan sungai, bukit dan topografi, breksiasi, gores-garis, dan hadirnya manifestasi panas bumi yang berupa batuan alterasi bertipe agrilik dan pemunculan mata air panas. Pada lokasi penelitian terdapat sesar-sesar utama yang pada umumnya adalah sesar normal yang merupakan struktur kontrol geologi panas bumi yang berkembang pada daerah penelitian. Disamping itu terdapat pula sesar-sesar sekunder terbentuknya akibat dari proses tektonik di daerah ini seperti Sesar Leumo Matee, Ceuneohot, Iboih, Jaboi dan Sesar Nibung 2.  Gambar 1. Peta Geologi Pulau Weh 2  Metode MagnetikMetode magnetik adalah salah satu metode geofisika pasif yang digunakan untuk mengukur variasi medan magnetik di permukaan bumi yang disebabkan oleh adanya sebaran batuan yang termagnetisasi di bawah permukaan bumi. Metode magnetik dapat digunakan untuk menentukan struktur geologi bawah permukaan seperti patahan, lipatan, intrusi batuan beku atau reservoir panas bumi. Adanya anomali sifat fisik batuan dapat digunakan untuk memperkirakan keberadaan panas bumi di bawah permukaan. Batuan di dalam  panas bumi pada umumnya memiliki magnetisasi rendah dibanding batuan sekitarnya. Nilai magnet rendah dapat menginterpretasikan zona-zona potensial sebagai reservoar sumber panas 3.Metode magnetik didasarkan pada hukum Coulumb F (dyne) antara dua kutub magnetik p1 dan p2 (semu) yang berjarak r (cm) dan dinyatakan dalam persamaan berikut 4.F=(p_1 p_2)/(?_0 r^2 ) r_1?0 adalah permeabilitas medium dalam ruang hampa, tidak berdimensi, dan berharga satu serta r1 menunjukkan vektor satuan dengan arah dari p1 ke p2. Besar nilai ?0 dalam satuan SI adalah 4? X ?10?^(-7)   N?A^2  4.Batuan yang berada di kawasan prospek panas bumi pada umumnya memiliki magnetisasi rendah dibanding batuan disekitarnya. Metode magnetik ini digunakan pada studi geothermal karena mineral-mineral ferromagnetic akan kehilangan sifat kemagnetannya bila dipanasi mendekati temperatur Curie. Oleh karena itu digunakan untuk mempelajari daerah yang diduga mempunyai potensi geothermal. Anomali magnet di daerah panas bumi Jaboi, Sabang dibagi menjadi tiga, yaitu anomali sangat rendah dengan nilai anomali antara -600 s/d 200 nT sebagai batuan terubah kuat dan batuan lapuk, anomali rendah dengan nilai > -200 s/d 300 nT sebagai batuan aluvium dan piroklastik serta anomali tinggi dengan nilai antara > 300 s/d 700 nT sebagai batuan rhiolit/dasit dan vulkanik segar. Dari ketiga anomali tersebut yang merupakan daerah potensial panas bumi adalah daerah yang nilai anomali magnet rendah dengan adanya manifestasi air panas serta dikontrol oleh sesar 6.Temperatur tinggi pada sistem panas bumi dominasi air yang berada di batuan gunung api kuarter seringkali berasosiasi dengan anomali magnetik yang khusus. Anomali ini merepresentasikan demagnetisasi oleh batuan reservoir melalui fluida panas yang mengubah mineral ferromagnetik misalnya magnetite menjadi mineral non-magnetik misalnya pyrite. Suseptibilitas yang rendah hanya bisa terjadi jika suatu material magnetik terpanaskan hingga melebihi temperatur Currie suatu batuan sehingga material magnetik dapat mengalami demagnetisasi (penurunan nilai suseptibilitas batuan).Metode magnetik dalam aplikasi geofisika akan tergantung pada pengukuran yang akurat dari anomali medan magnetik lokal yang dihasilkan oleh variasi intensitas magnetik dalam formasi batuan. Intensitas dari induksi magnetik akan tergantung pada suseptibilitas magnetik batuan dan gaya magnetnya, serta intensitas permanennya pada sejarah geologi batu tersebut. Besaran suseptibilitas adalah parameter dasar yang digunakan dalam prospek magnetik, dimana semakin besar suseptibilitas batuan maka semakin banyak dijumpai mineral yang bersifat magnetik.Tabel 1. Nilai Suseptibilitas Batuan Beku 4Jenis Batuan/Mineral Suseptibilitas(x10-6 emu) Interval Rata-rataBatuan BekuGranit 0-4000 200Riolit 20-3000 Dolorit 100-3000 1400Augit-senit 2700-3600 Olivin-diabas 2000Diabas 80-13000 4500Porpiri 20-16700 5000Gabro 80-7200 6000Basal 20-14500 6000Diorit 50-10000 7000Piroxenit 10500Peridotit 7600-15600 13000Andesit 13500Rata-rata beku Asam 3-6530 650Rata- rata beku Basa 44-9170 2600 Metodologi PenelitianPenelitian dilakukan dalam 3 tahapan yaitu pengambilan data, pengolahan data penelitian dan interpretasi. Pengambilan data dilakukan di kawasan panas bumi Sabang. Survei awal dilakukan untuk memperoleh informasi-informasi daerah penelitian secara langsung. Hasil survei awal dijadikan pedoman dalam menentukan titik-titik lokasi pengukuran. Jarak antar titik pengukuran sejauh kurang lebih 250 meter dengan jumlah 41 titik. Akuisisi data dilakukan secara grid dengan jarak antar titik pengukuran adalah 250 meter dan disesuaikan dengan kondisi lapangan sebenarnya saat melakukan pengukuran yang mencakup luas area 6.250.000 m2 (2500 m x 2500 m). Data yang diperoleh pada tahapan akuisisi berupa nilai magnetik total yang merupakan gabungan dari medan magnet anomali yang berasal dari objek bawah permukaan, medan utama bumi dan medan magnet luar angkasa. Oleh karena itu perlu dilakukan beberapa koreksi terhadap data tersebut sehingga diperoleh data anomali magnetik. Adapun koreksi yang dilakukan adalah koreksi Diurnal dan koreksi IGRF. Pengolahan data dilakukan menggunakan software Oasis Montaj menghasilkan peta kontur dan model penampang 2D batuan bawah permukaan. Gambar 2. Peta Lokasi Penelitian Hasil PenelitianData hasil pengukuran dilapangan berupa nilai intensitas medan magnetik total, sebelum dilakukan pengolahan data menggunakan Software Oasis Montaj data tersebut perlu dilakukan beberapa koreksi yaitu Diurnal yang berguna untuk mengurangi efek medan magnet luar angkasa dan koreksi IGRF yang berguna untuk mengurangi efek dari nilai medan magnet utama bumi sehingga yang diperoleh berupa nilai anomali magnetik. Data hasil pengukuran dimasukkan ke Software Oasis Montaj dalam file txt yang terdiri dari parameter X (longitude), Y (latitude), dan Z (anomali). Kontur anomali yang dihasilkan pada Software Oasis Montaj telah diinterpolasikan dengan cell size yang digunakan setengah dari spasi antar titik pengukuran. Anomali MagnetikNilai kemagnetan pada peta kontur anomali magnetik berkisar antara -176.70 nT yang ditunjukkan oleh warna biru tua sampai dengan 962.25 nT yang ditunjukkan oleh warna merah muda pudar. Lingkaran kecil yang tersebar di ketiga peta kontur diatas merupakan titik-titik lokasi pengukuran. Tidak adanya data nilai magnetik di titik-titik pengukuran mengakibatkan pola interpolasi yang besar, namun data magnetik hasil pengukuran sudah cukup untuk melingkupi area pengukuran.    Gambar 3. (a) Peta Kontur Anomali Magnetik, (b) Peta Kontur Anomali Setelah Filtering RTE Pada bagian yang ditandai dengan persegi berwarna putih, terdapat sebaran nilai kemagnetan yang rendah yaitu sekitar -166 nT sampai dengan 66 nT diinterpretasikan pada bagian tersebut merupakan letak manifestasi panas bumi. Pada bagian yang ditandai dengan persegi panjang berwarna hitam terdapat sebaran nilai kemagnetan yang paling tinggi yaitu berkisar antara 191 nT sampai dengan 962.25 nT diinterpretasikan pada bagian tersebut terdapat anomali akibat adanya patahan. Anomali Magnetik RTEDaerah penelitian memiliki sudut inklinasi I=-4,146 dan sudut deklinasi D=-0,758 sehingga medan magnet utama bumi datang dengan arah yang hampir horizontal. Akibatnya, bahan-bahan bersifat magnet tinggi akan memiliki respon anomali magnetik yang dihasilkan dari medan magnet bumi yang hampir horizontal berada pada nilai terendah. Oleh sebab itu, agar respon magnetik menjadi benar diperlukan filtering yaitu reduksi ke ekuator. Reduksi ke ekuator dilakukan karena sudut inklinasi mendekati ekuator, sehingga pengukuran seolah-olah dilakukan didaerah sudu inklinasi 0 dan sudut deklinasi 0.Setelah dilakukan filtering reduksi ke ekuator diperoleh perubahan pada beberapa bagian pada kontur. Sebaran nilai kemagnetan setelah dilakukan RTE berkisar antara -150 nT sampai dengan 500 nT. Pada lokasi yang ditandai sebelumnya pola sebaran nilai kemagnetannya tidak berubah. Pola pada bagian yang ditandai dengan persegi berwarna putih diinterpretasikan sebagai lokasi manifestasi. Nilai kemagnetan yang rendah tersebut diakibatkan oleh adanya proses demagnetisasi oleh alterasi hidrotermal sehingga mengubah mineral yang ada menjadi mineral-mineral paramagnetik atau bahkan diamagnetik pada bagian yang ditandai dengan persegi panjang berwarna hitam berada pada batas kontras kemagnetan tinggi dan kemagnetan rendah diinterpretasikan sebagai patahan tersebut merupakan patahan Ceuneuhot.Pada bagian yang diduga patahan berada di batas kontras kemagnetan tinggi dengan kemagnetan rendah, hal ini menunjukkan ketidak-homogenan lapisan batuan secara lateral, dimungkinkan anomali tersebut berasal dari intrusi batuan beku. Adanya manifestasi di permukaan menunjukan adanya suatu sistim hidrotermal dibawah permukaan. Manifestasi ini diperkirakan terjadi karena adanya perambatan panas dari bawah permukaan atau karena adanya rekahan-rekahan yang memungkinkan fluida panas bumi mengalir ke permukaan. Adanya patahan pada suatu sistem hidrotermal juga sangat penting karena, patahan berfungsi sebagai jalur migrasi fluida panas bumi atau sebagai media resapan untuk menangkap air dari tanah.Pemodelan penampang 2D batuan bawah permukaan pada penelitian ini menggunakan menu GMSYS pada software Oasis Montaj, dasarnya yaitu menganalisis bentuk kurva anomali dua dimensi yang diperoleh dari sayatan melintang pada kontur anomali. Prinsip kerjanya yaitu menyamakan kurva hasil kalkulasi dengan kurva hasil observasi, ketika kedua kurva tersebut berhimpitan berati mengurangi misfit dan model yang dibuat mendekati kondisi sebenarnya. Adapun parameter input yaitu IGRF, inklinasi dan deklinasi, sedangkan parameter outputnya yaitu kedalaman dan suseptibilitas batuan tersebut. Untuk mendapatkan model panampang 2D batuan bawah permukaan maka diperlukan sayatan melintang dari kontur anomali sebelumnya. Adapun sayatannya dapat dilihat pada gambar berikut ini.  Gambar 4. Sayatan Melintang pada Kontur Anomali  Sayatan A-BProfil A-B ditarik sepanjang 1.164 meter berarah utara ke selatan, sayatan ditarik diambil berdasarkan data kontur anomali magnetik yang memotong bagian anomali yang diinterpretasikan sebagai patahan Ceuneuhot.  Gambar 5. Model Penampang 2D Batuan Bawah Permukaan Sayatan A-B Berdasarkan model penampang bawah permukaan sayatan A-B di atas, terdapat 5 lapisan batuan bawah permukaan dengan kedalaman total 1200 meter yaitu berupa andesit breksian dilapisan pertama dengan nilai suseptibilitas batuannya berkisar antara 7.000-9.000 cgs yang terletak pada kedalaman 0-150 meter, breksi andesitan dilapisan ke dua dengan nilai suseptibilitas batuannya berkisar antara 700-3.000 cgs yang terletak pada kedalaman 30-430 meter, kemudian dilapisan ke tiga terdapat andesit tufaan dengan nilai suseptibilitas 8.000-10.000 cgs yang terletak pada kedalaman 320-740 meter dan lapisan ke empat berupa batuan breksi andesitan dengan nilai suseptibilitas batuannya berkisar antara 2.000-3.000 cgs yang terletak pada kedalaman 570-1020 meter serta lapisan ke lima terdapat batuan basal terubah dengan nilai suseptibilitas berkisar antara 800-900 cgs yang terletak pada kedalaman 870-1200 meter. Pada jarak ke 935-970 terdapat zona lemah yang diinterpretasikan sebagai sesar turun, hal ini dapat dilihat dari perlapisan batuan disebalah kanan sesar lebih turun dibandingkan lapisan disebelah kirinya. Penelitian sebelumnya 7, menyatakan bahwa daerah Jaboi memiliki lapisan batuan yang sudah terdemagnetisasi sehingga suseptibilitas batuannya sangat rendah. Sayatan A-CProfil A-C ditarik sepanjang 1.560 meter berarah utara ke tenggara, sayatan ditarik diambil berdasarkan data kontur anomali magnetik yang memotong bagian anomali yang diduga akibat patahan dan anomali yang diduga akibat manifestasi  Gambar 5. Model Penampang 2D Batuan Bawah Permukaan Sayatan A-C Berdasarkan model penampang bawah permukaan sayatan A-C di atas, terdapat 5 lapisan batuan bawah permukaan dengan kedalaman total 1200 meter yaitu berupa andesit breksian dilapisan pertama dengan nilai suseptibilitas batuannya berkisar antara 14.000-20.000 cgs yang terletak pada kedalaman 0-135 meter, breksi andesitan dilapisan ke dua dengan nilai suseptibilitas batuannya berkisar antara 2.000-4.000 cgs yang terletak pada kedalaman 10-450 meter, kemudian dilapisan ke tiga terdapat andesit tufaan dengan nilai suseptibilitas 13.500-15.000 cgs yang terletak pada kedalaman 290-790 meter dan lapisan ke empat berupa batuan breksi andesitan dengan nilai suseptibilitas batuannya berkisar antara 2.000-4.000 cgs yang terletak pada kedalaman 600-1060 meter serta lapisan ke lima terdapat batuan basal terubah dengan nilai suseptibilitas berkisar antara 800-900 cgs yang terletak pada kedalaman 830-1200 meter. Pada jarak ke 850-915 terdapat zona lemah yang diinterpretasikan sebagai sesar turun, hal ini dapat dilihat dari perlapisan batuan disebalah kanan sesar lebih turun dibandingkan lapisan disebelah kirinya.Tahap pemodelan data magnetik memiliki tingkat ambiguitas yang tinggi, oleh karena itu diperlukan data pelengkap lainnya untuk mengurangi hal tersebut. Berdasarkan hasil studi literatur peta geologi Sabang, daerah penelitian didominasi oleh batuan andesit, tufa dan aglomerat 7. Data tambahan lainnya yaitu berupa hasil korelasi sumur pemboran JBO1 dan JBO2 hasil penelitian terdahulu oleh badan geologi serta data sumur pemboran oleh PT. Sabang Geothermal Energy. Berdasarkan data tersebut diperoleh informasi bahwa pada lokasi penelitian terdapat lapisan andesit terubah dan breksi tufa terubahBerdasarkan hasil pemodelan diinterpretasikan batuan yang paling memungkinkan untuk menjadi reservoir panas bumi pada kawasan Jaboi adalah batuan breksi karena batuan ini memiliki tingkat porositas dan permeabilitas paling tinggi dengan densitas yang rendah dan tekanan kapiler juga rendah. Penelitian sebelumnya 8 menginformasikan batas tertinggi reservoir panas bumi di kawasan panas bumi jaboi berada pada kedalaman 600 meter dengan suhu 250ºC dan lapisan penutup memiliki ketebalan 400-500 meter, jadi batuan breksi andesitan pada lapisan ke empat lebih tepat untuk menjadi reservoir dengan kedalaman 570-1060 meter. KesimpulanBerdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut. Medan magnetik total yang terukur pada kawasan panas bumi Jaboi, Sabang berkisar antara 41550 nT – 42650 nT. Sedangkan nilai anomali magnetik nya berkisar antara -175 nT – 965 nT. Dari hasil interpretasi kualitatif dapat dilihat bahwa sebaran nilai kemagnetan batuan pada lokasi penelitian tergolong rendah hampir disemua tempat yang mengidentifikasikan adanya proses demagnetisasi batuan oleh suhu di bawah permukaan. Pada nilai anomali yang rendah terdapat lokasi manifestasi, sedangkan pada batas kontras anomali tinggi dan rendah berupa patahan Ceuneuhot. Berdasarkan hasil interpretasi kuantitatif didapatkan 5 lapisan batuan bawah permukaan pada lokasi penelitian yang ditunjukkan pada tabel berikut.Lapisan Interpretasi Batuan Nilai Suseptibilitas(10-6 cgs) Kedalaman (meter)1 Andesit breksian 7.000-20.000 0-1502 Breksi andesitan 700-4.000 10-4503 Andesit tufaan 8.000-15.000 290-7904 Breksi andesitan 2.000-4.000 600-10605 Basal terubah 800-900 830-1200 Sifat fisis dari batuan yang diperoleh dari model penampang 2D batuan bawah permukaan pada lokasi penelitian menunjukkan batuan yang berpotensi untuk menjadi reservoir panas bumi pada kawasan tersebuat adalah batuan breksi pada lapisan ke empat dengan kedalaman 670-1060 meter. Daftar pustaka1 Setiawan, S. 2013. Energi Panas Bumi dalam Kerangka MP3EI: Analisis terhadap Prospek, Kendala, dan Dukungan Kebijakan. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan, 10(1) 1-30.2 Dirasutrisna, S., & Hasan, A. R. 2005. Geologi Panas Bumi Jaboi Sabang Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Direktorat Sumber Daya dan Mineral.3 Indratmoko, P., Nurwidyanto, M. I., & Yulianto, T. 2009. Interpretasi Bawah Permukaan Daerah Manifestasi Panas Bumi Parangtritis Kabupaten Bantul DIY dengan Metode Magnetik. Berkala Fisika, 12(4): 153-160.4 Telford, W. M., Geldart, L. P., & Sheriff, R. E. 1990. Applied Geophysics 2nd Edition. Cambridge: Cambridge University Press.5 Widi, E. S. 2015. Kajian Panas Bumi Daerah Medini-Gonoharjo Berdasarkan Data Geomagnetik. Skripsi, UNES.6 Broto, S., & Putranto, T. 2011. Aplikasi Metode Geomagnet dalam Eksplorasi Panasbumi.7 Mustang, A., Sumardi, E., & Rahardja, B. 2005. Survei Geomagnet di Daerah Panas Bumi Jaboi, Kota Sabang, Daerah Istimewa Aceh. Badan Geologi.8 Suhanto, E., Sriwidodo, Munandar, A., & Kusna, D. 2005. Penyelidikan Terpadu Geologi, Geokimia dan Geofisika Daerah Panas Bumi Jaboi Kota Sabang- Nanggroe Aceh Darussalam. Jawa Barat: Badan Geologi – Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral.